Showing posts with label sepucuk jambi sembilan lurah. Show all posts
Showing posts with label sepucuk jambi sembilan lurah. Show all posts

Friday, April 29, 2011

Puluhan Desa Terendam Banjir di Sarolangun



Guyuran hujan deras yang melanda Kabupaten Sarolangun sejak Minggu sore (24/4), hingga Senin (25/4) mengakibatkan meluap sungai Batang Limun dan sungai Batang Tembesi.

Meluapnya air sungai ini terjadi sejak pukul 7.30 WIB kemarin pagi. Dampaknya ratusan rumah warga Muara Limun dan puluhan rumah didesa Pulau Pandan Kecamatan Limun dan belasan unit rumah warga di Kecamatan Cermin Nan Gedang (CNG) terendam oleh banjir dengan kedalaman banjir ini mencapai 1 meter lebih.

Sekitar 400 hektar lebih sawah masyarakat yang siap panen di Kecamatan Limun dan Kecamatan Pelawan terendam banjir. Malah gagal panen. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa banjir ini hanya saja kerugian materi akibat dari peristiwa ini belum bisa ditaksir.

Pantauann Sarolangun Ekspres di desa Pulau Pandan sekitar pukul 13.30 WIB salah satu SD di desa Pulau Pandan juga ikut terendam banjir sehingga aktivitas belajar dan mengajar tidak bisa berjalan. Bukan hanya itu jalur kendaraan roda dua dan empat dari arah Kecamatan Batang Asai lumpuh total.

Bupati Sarolangun Drs. H. Cek Endra dan Sekda Ir. Basyari yang didampingi oleh kakan KesbagPol Linmas, Sarbaini, Kadis Pertanian Ir. Hardioyono, Kadis PU dan Pera Ir. Edi Suranto, Kadis Sosnaketrans dan Camat Limun Nofriadi sekitar pukul 10. 00 WIB kemaren sudah berada di lokasi banjir di Kecamatan Limun dan CNG disela-sela memantau banjir Bupati dan Sekda menyerahkan bantuan gawat darurat mengatas namakan Pemkab Sarolangun untuk korban banjir.

Bantuan yang deserahkan berupa beras dan makanan ringan seperti mie instan dan susu kaleng. Bupati Sarolangun Drs. H. Cek Endra menyerukan pada masyarakat agar waspada. Baik persoalaan penyelematan diri dengan banjir maupun soal kesehatan masyarakat dalam mengkonsusi air bersih, selain itu Bupati berharap seluruh korban banjir agar tetap melakukan pengunsian pada tempat yang aman menjelang debit air sungai surut.

Pemkab Sarolangun telah informasikan pada Kesbang Pol Linmas dan pihak Kecamtan untuk mendirikan Posko bencana banjir di Limun dan CNG hal ini untuk antisipasi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan baik sisi keamanan ataupun bertambahnya besar debit air," jelas Cek Endra.

Sementara itu KesbagPolmas Sarolangun Sarbaini saat dikomfermasi Koran ini dilokasi banjir menyebutkan, data sementara jumlah rumah terendam banjir yang behasil dirangkum Kecamatan Muara Limun sebanyak 214 unit rumah. Di Desa Pulau Pandan 16 unit rumah.

Banjir yang terparah hany terjadi di Kecamatan Muara Limun, sedangkan di Kecamatan Pelawan tidak ada rumah yang terendam banjir hanya saja sawah masyarakat yang terendam banjir, "jelas Sarbaini.

Dikatakannya kejadian banjir ini menjadi sebuah catatan penting untuk KesbagPol
Limas, soalnya cuaca terkini ekstrim.

selain itu Camat Limun Novriadi mengatakan, banjir ini terjadi karena diduga tingginya curah hujan di Batang Asai dan Merangin, sehingga saat bertemunya air yang mengalir di sungai Batang Asai Limun dan sungai Batang Tembesi meluap alias tidak tertampung akhirnya melimpah kedaratan.

Sumber: Sarolangun Ekspres (26 April 2011)



Sunday, May 23, 2010

Pertumbuhan Batik Jambi Masih Normal, Motif Kalah Saing


Dunia mode Indonesia, belakangann dipenuhi dengan motif dan corak batik. Seolah batik menjadi tren tersendiri. Lalu, bagaimana dengan Jambi sebagai daerah penghasil kerajinan khas batik?

Keunikan dari Batik Jambi adalah motif serta corak yang terlukis di setiap bahannya dengan simbol-simbol alam. Saat ini ada sekitar 100 motif khas dari Batik Jambi. Di antaranya motif Bunga Melati, Kapal Sanggat, Durian Pecah, Bunga Kaca Piring, Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, Angsoduo, dan Bunga Keladi.

Saat ini, pertumbuhan Batik Jambi masih normal. Naik tidak, turun pun tidak. Salah seorang pemilik kerajinan Batik Jambi, Ahmad mengatakan, hasil kerajinannya dijual melalui beberapa toko kerajinan batik yang ada di Jambi. “Juga dititipkan di Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah Jambi),” ujarnya.

Dikatakannya, adanya tren batik yang merebak di masyarakat sedikit banyak berpengaruh atas pertumbuhan Batik Jambi. “Kadang kita kalah saing dengan motif mereka,” katanya.  

Selain itu, bahan dasar membuat batik yang belum ada di Jambi, juga membuat biaya produksi menjadi lebih mahal. “Sehingga harga jual Batik Jambi, memang cenderung mahal,” ujarnya.

Sementara itu, pemilik Galeri Sekar Kinanti, Yani mengatakan, motif Batik Jambi masih cenderung monoton, dan dari segi artistik masih belum sempurna. Namun, seiring dengan perkembangan waktu, Yani mengatakan, para perajin Batik Jambi saat ini sudah mulai berani menciptakan motif-motif baru.

Satu lagi, kata Yani, perajin diharapkan untuk dapat berani bermain dengan warna. “Hingga kita tidak akan kalah saing dengan motif batik lainnya yang berasal dari luar Jambi,” ujarnya.(*)